| BKKBN PUSAT AKAN CAIRKAN ANGGARAN 12 MILIAR UNTUK PROGRAM KB DI NIAS |
Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Provinsi
Sumatera Utara (BKKBN Sumut) H Nofrijal SP MA menyebutkan, untuk meningkatkan pencapaian program Keluarga Berencana (KB) di Pulau Nias Sumatera Utara, pemerintah pusat akan memberikan anggaran tambahan sebesar Rp12 miliar. Anggaran tersebut, kata Nofrijal, usai buka bersama di kantor BKKBN Sumut Jalan Krakatau Ujung Medan, Kamis (18/8), merupakan anggaran hasil efisien anggaran yang diambil dari setiap anggaran pokok setiap provinsi. "Setiap anggaran tahunan dipotong 10 persen untuk efisiensi. Kumpulan efisiensi anggaran itu digodok pemerintah pusat dan diserahkan lagi ke daerah. Kali ini, ada tambahan peningkatan program KB di wilayah kepulauan dan perbatasan. Sumut mendapat porsi Rp12 miliar untuk meningkatkan program KB di Pulau Nias," sebut Nofrijal. Sejauh ini, dia mengakui, pencapaian program BKKBN Sumut secara global sudah bagus. Walaupun masih ada beberapa daerah khususnya di kawasan Pulau Nias yang masih minim. Itulah sebabnya, fokus ke depan saat ini BKKBN akan gencar melakukan promosi program pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana (KKB) kawasan tersebut. "Yang menjadi sasaran target promosi KKB kita saat ini adalah daerah pencapaian KKB yang masih relatif minim, yakni Pulau Nias meliputi Nias Selatan dan Nias Barat," kata Kepala BKKBN Perwakilan Sumut Nofrijal. "Pencapaian KKB hingga bulan Juni atau semester I 2011 di wilayah Sumut mencapai 80%. Pencapaian KKB terbesar disumbang oleh Kota Medan, Kabupaten Sergai, Kabupaten Deliserdang dan Kabupaten Langkat," jelasnya. Hasil yang cukup maksimal tersebut tidak terlepas dari peran aktif pemerintah daerah dan kalangan militer, seperti TNI yang ikut turun langsung dalam mensosialisasikan, mengedukasi dan mempromosikan program KKB ke tengah masyarakat. Selain itu, peran media massa, baik dari elektronik, cetak dan digital (online) juga turut membantu BKKBN dalam mengedukasi dan mengkomunikasi secara informasi program pembangunan KKB. Menurutnya, kendala yang dihadapi dalam menyosialisasikan program pembangunan KKB di Pulau Nias karena medan yang ditempuh begitu sulit dan terbatasnya tenaga penyuluh yang dimiliki, sehingga masyarakat belum begitu paham tentang program KKB. Disebutkannya juga, melalui buka puasa bersama ini, pihaknya ingin menyatukan komitmen untuk lebih meningkatkan kinerja pegawai, agar target pencapaian promosi dan program KKB dapat terealisasikan hingga akhir tahun. "Kita optimis, target pencapaikan program KKB di tahun ini akan tercapaikan dengan hasil yang maksimal," ucapnya. Selain itu, lanjutnya, keberhasilan program KB sangat erat kaitannya dengan tersedianya anggaran di setiap kabupaten/kota. Sedangkan provinsi hanya sebagai pendukung. Tapi, lanjutnya, sebagian besar kabupaten/kota masih minim menganggarkan untuk program KB. Sehingga, program sulit berjalan hingga ke desa-desa. Sedangkan BKKBN Sumut sendiri sifatnya hanya membantu. Paling tidak sepertiga anggaran BKKBN Sumut selama ini diplot untuk membantu daerah. "Saya sudah bicara ke 10 bupati dan walikota. Mereka akan meningkatkan anggaran untuk program KB. Mungkin tahun depan," sebut Nofrijal.(nai) |
Senin, 05 September 2011
Pulau Nias
Cerita rakyat Nias
Pada dahulu kala sebuah cerita sang moyang atau dalam istila bahasa Nias yang namanya "Buruti Siraso" (Siraso) adalah putri dari Raja Balugu Silaride Ana’a di
Teteholi Ana’a. Pada zaman Balugu (raja) "Silaride Ana’a" adalah keturunan lebih dari
sepuluh ketika Balugu Luo Mewöna. Siraso adalah saudara kembar dari Silögu Mbanua (Silögu).
Di Teteholi Ana’a, Siraso memiliki kebiasaan mendatangi rakyat/masyarakat Nias(Niha hulo tano Niha) saat penaburan bibit sehingga tanaman subur dan berbuah lebat. Sedang Silögu gemar mendatangi rakyat saat panen sehingga bulir-bulir panenan banyak dan bernas.
Ketika memilih jodoh, Siraso mengidamkan suami yang mirip kembarannya, demikian pula Silögu ingin beristri seorang wanita persis Siraso. Untuk mencari jodohnya, Silögu pergi berkelana. Sementara Siraso diturunkan ayahnya ke muara sungai Oyo. Anak kembar itu dipisah agar tidak terjadi incest (kawin sumbang). Dari muara sungai Oyo, Siraso meneruskan perjalanan ke hulu, tiba di suatu dataran rendah yang kemudian bernama Hiyambanua, dan bermukim di situ.
Setelah setahun berkelana Silögu pulang. Di rantau dia tidak menemukan idamannya, di Teteholi Ana’a dia juga tidak bertemu kembarannya. Menurut ayahnya, Siraso telah meninggal dunia. Betapa gundah-gulana hati Silögu. Akhirnya, Silögu mohon diturunkan ke bumi. Silögu kebetulan diturunkan di muara sungai Oyo. Dia berjalan ke hulu sungai, dan tiba di Hiyambanua. Di sana dia bertemu seorang wanita yang mirip adik kembarnya. Sang wanita itu juga melihat Silögu mirip abang kembarnya.
Dua insan itu akhirnya kawin. Setelah menjadi pasutri (pasangan suami-istri) barulah Silögu dan wanita itu (yang ternyata adalah Siraso) mengetahui bahwa mereka saudara kembar. Apa boleh buat, Maha Sihai Si Sumber Bayu telah menjodohkan mereka.
Di bumi Nias Siraso dan Silögu tetap gemar mengunjungi para petani. Doa dan berkat mereka dibutuhkan untuk bibit dan untuk panen. Setelah mereka meninggal dunia, orang-orang membuat patung Siraso (Siraha Woriwu) dan patung Silögu (Siraha Wamasi) untuk memanggil arwah mereka pada waktu para petani turun menabur bibit dan panen. Siraso dikenal sebagai Dewi Bibit (Samaehowu Foriwu), Silögu dikenal sebagai Dewa Panen (Samaehowu Famasi).
Pada waktu mulai menabur bibit, masing-masing petani membawa bibit tanaman, diserahkan kepada ere (ulama agama suku) agar bibit tersebut diberkati oleh Dewi Bibit. Upacara pemberkatan ini mengorbankan babi. Ere memimpin doa pemujaan Siraha Woriwu. Syair hoho Memuja Dewi Bibit (Fanumbo Siraha Woriwu) diawali:
He le Siraso samo’ölö, he le Siraso samowua;
soga möi moriwu tanömö, möiga mangayaigö töwua;
mabe’zi sarasara likhe, matanö zi sambuasambua.
(Hai Siraso Sumber hasil, hai Siraso sumber buah.
Kami tiba, menyemai bibit, kami tiba menyemai tampang.
Kami semai tunggal berlidi, kami semai biji satuan.)
Setelah itu syair hoho berisi harapan agar bibit tanaman:
diberi akar menembus bumi, diberi batang naik mengatas
mayangnya dimatangkan oleh terik, buahnya dimatangkan oleh panas
terlindung dari serangan: tikus, walang sangit, celeng, monyet, hama, pipit
tidak diganggu arwah orang mati dan tidak dihanyutkan banjir
Selain harapan, syair hoho juga berisi janji (ikrar) yang harus ditepati:
Mabé wabaliŵa mbalaki, mabé wabaliŵa zemoa;
sumange woriwu tanömö, sumange woriwu töwua.
Andrö faehowu ya mo’ölö, andrö faehowu ya mowua.
(Akan kami bayar emas murni, dan kami membayar emas perada.
Persembahan bagi Dewi Bibit, persembahan bagi Dewi tampang.
Berkatilah agar ganda hasil, berkatilah agar berganda buah.)
Tidak dijelaskan bagaimana janji tersebut dilaksanakan, namun dalam pemujaan Dewa Panen disebutkan bahwa sebagian hasil panen harus dibagikan kepada: kaum miskin atau melarat, janda, anak yatim, dan anak yatim-piatu. Bila dilanggar akan membuat dewa marah dan merusak hasil pertanian.
Demikianlah cerita Dewi Bibit (dan Dewa Panen) dalam buku Ama Rozaman. Kisah Siraso dan Silögu ini pada zamannya merupakan mite. Para ahli menyebutnya mitos teogonis (mite terjadinya dewa-dewi), dianggap benar-benar terjadi, dianggap suci (sakral), dan diwariskan turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Nias tempodahulu kala.
Di Teteholi Ana’a, Siraso memiliki kebiasaan mendatangi rakyat/masyarakat Nias(Niha hulo tano Niha) saat penaburan bibit sehingga tanaman subur dan berbuah lebat. Sedang Silögu gemar mendatangi rakyat saat panen sehingga bulir-bulir panenan banyak dan bernas.
Ketika memilih jodoh, Siraso mengidamkan suami yang mirip kembarannya, demikian pula Silögu ingin beristri seorang wanita persis Siraso. Untuk mencari jodohnya, Silögu pergi berkelana. Sementara Siraso diturunkan ayahnya ke muara sungai Oyo. Anak kembar itu dipisah agar tidak terjadi incest (kawin sumbang). Dari muara sungai Oyo, Siraso meneruskan perjalanan ke hulu, tiba di suatu dataran rendah yang kemudian bernama Hiyambanua, dan bermukim di situ.
Setelah setahun berkelana Silögu pulang. Di rantau dia tidak menemukan idamannya, di Teteholi Ana’a dia juga tidak bertemu kembarannya. Menurut ayahnya, Siraso telah meninggal dunia. Betapa gundah-gulana hati Silögu. Akhirnya, Silögu mohon diturunkan ke bumi. Silögu kebetulan diturunkan di muara sungai Oyo. Dia berjalan ke hulu sungai, dan tiba di Hiyambanua. Di sana dia bertemu seorang wanita yang mirip adik kembarnya. Sang wanita itu juga melihat Silögu mirip abang kembarnya.
Dua insan itu akhirnya kawin. Setelah menjadi pasutri (pasangan suami-istri) barulah Silögu dan wanita itu (yang ternyata adalah Siraso) mengetahui bahwa mereka saudara kembar. Apa boleh buat, Maha Sihai Si Sumber Bayu telah menjodohkan mereka.
Di bumi Nias Siraso dan Silögu tetap gemar mengunjungi para petani. Doa dan berkat mereka dibutuhkan untuk bibit dan untuk panen. Setelah mereka meninggal dunia, orang-orang membuat patung Siraso (Siraha Woriwu) dan patung Silögu (Siraha Wamasi) untuk memanggil arwah mereka pada waktu para petani turun menabur bibit dan panen. Siraso dikenal sebagai Dewi Bibit (Samaehowu Foriwu), Silögu dikenal sebagai Dewa Panen (Samaehowu Famasi).
Pada waktu mulai menabur bibit, masing-masing petani membawa bibit tanaman, diserahkan kepada ere (ulama agama suku) agar bibit tersebut diberkati oleh Dewi Bibit. Upacara pemberkatan ini mengorbankan babi. Ere memimpin doa pemujaan Siraha Woriwu. Syair hoho Memuja Dewi Bibit (Fanumbo Siraha Woriwu) diawali:
He le Siraso samo’ölö, he le Siraso samowua;
soga möi moriwu tanömö, möiga mangayaigö töwua;
mabe’zi sarasara likhe, matanö zi sambuasambua.
(Hai Siraso Sumber hasil, hai Siraso sumber buah.
Kami tiba, menyemai bibit, kami tiba menyemai tampang.
Kami semai tunggal berlidi, kami semai biji satuan.)
Setelah itu syair hoho berisi harapan agar bibit tanaman:
diberi akar menembus bumi, diberi batang naik mengatas
mayangnya dimatangkan oleh terik, buahnya dimatangkan oleh panas
terlindung dari serangan: tikus, walang sangit, celeng, monyet, hama, pipit
tidak diganggu arwah orang mati dan tidak dihanyutkan banjir
Selain harapan, syair hoho juga berisi janji (ikrar) yang harus ditepati:
Mabé wabaliŵa mbalaki, mabé wabaliŵa zemoa;
sumange woriwu tanömö, sumange woriwu töwua.
Andrö faehowu ya mo’ölö, andrö faehowu ya mowua.
(Akan kami bayar emas murni, dan kami membayar emas perada.
Persembahan bagi Dewi Bibit, persembahan bagi Dewi tampang.
Berkatilah agar ganda hasil, berkatilah agar berganda buah.)
Tidak dijelaskan bagaimana janji tersebut dilaksanakan, namun dalam pemujaan Dewa Panen disebutkan bahwa sebagian hasil panen harus dibagikan kepada: kaum miskin atau melarat, janda, anak yatim, dan anak yatim-piatu. Bila dilanggar akan membuat dewa marah dan merusak hasil pertanian.
Demikianlah cerita Dewi Bibit (dan Dewa Panen) dalam buku Ama Rozaman. Kisah Siraso dan Silögu ini pada zamannya merupakan mite. Para ahli menyebutnya mitos teogonis (mite terjadinya dewa-dewi), dianggap benar-benar terjadi, dianggap suci (sakral), dan diwariskan turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Nias tempodahulu kala.
Senin, 01 Agustus 2011
FORUM MASYARAKAT TERTINDAS ( FAMATI )
Forum masyarakat tertindas (FAMATI ) laksanakan aksi damai di Polres Nias, Walikota dan DPRD tarkait dengan penanganan kasus P2K ( PERSONIL PEMADAM KEBAKARAN ) di Polres Nias yang sangat lamban dalam menentukan tersangka di balik otak penipu personil p2k tersebut.Aksi tersebut gabungan beberapa LSM FORSAS, LSM HAMBA dan Organisasi kamahasiswaan Gmni komisariat stt syalom Dan HIMGI.Aksi yang yang ketiga kali dilaksanakan tersebut di karenakan oleh ulah oknum2 di kesbang linmas kota gunungsitoli pada Thn 2010 yang lalu dimana beberapa staf di kesbang linmas kota melakukan pungutan liar ( PUNGLI ) tarhadap pelamar/pekerja sukarelawan sekaligus menipu anggota P2K tersebut dimna hingga sekarang anggota2 P2K telah di leburkan dan upah tenaga sukarela tidak dibayarkan.Oleh dasar2 yang telah disampaikan personil pemadam kebakaran kepada LSM hamba maka LSM HAMBA mengadukan ke Polres Nias.tapi, hingga sekarang yang sudah menjelang satu tahun belum ada titik terang penentuan tersangka, padahal bukti2 yang akurat disertai dengan kwintansi dan keterangan saksi yang cukup membantu penyelidikan.Atas tidak ada wujud nyata dari laporan tersebur maka gabungan organ lakukan aksi dami untuk mengingatkan kembali atas pertanggung jawaban serta kejelasan dan kepastian hukum di Polres Nias.jawaban pada saat aksi oleh gabungan ORMAS tersebut memicu ketidakpuasan dan alasan yang memang tidak masuk akal.maka, bebrapa Ormas yang sudah bergabung dengan FAMATI akan berencana untuk mengajukan ke POLDA SUMATRA UTARA terkait kasus P2K yang sedang hangatnya di kota gunungsitoli......
Langganan:
Postingan (Atom)