Senin, 05 September 2011

Pulau Nias

Cerita rakyat Nias

Pada dahulu kala sebuah cerita sang moyang atau dalam istila bahasa Nias yang namanya "Buruti Siraso" (Siraso) adalah putri dari Raja Balugu Silaride Ana’a di Teteholi Ana’a. Pada zaman Balugu (raja) "Silaride Ana’a" adalah keturunan lebih dari sepuluh ketika Balugu Luo Mewöna. Siraso adalah saudara kembar dari Silögu Mbanua (Silögu).

Di Teteholi Ana’a, Siraso memiliki kebiasaan mendatangi rakyat/masyarakat Nias(Niha hulo tano Niha) saat penaburan bibit sehingga tanaman subur dan berbuah lebat. Sedang Silögu gemar mendatangi rakyat saat panen sehingga bulir-bulir panenan banyak dan bernas.

Ketika memilih jodoh, Siraso mengidamkan suami yang mirip kembarannya, demikian pula Silögu ingin beristri seorang wanita persis Siraso. Untuk mencari jodohnya, Silögu pergi berkelana. Sementara Siraso diturunkan ayahnya ke muara sungai Oyo. Anak kembar itu dipisah agar tidak terjadi incest (kawin sumbang). Dari muara sungai Oyo, Siraso meneruskan perjalanan ke hulu, tiba di suatu dataran rendah yang kemudian bernama Hiyambanua, dan bermukim di situ.

Setelah setahun berkelana Silögu pulang. Di rantau dia tidak menemukan idamannya, di Teteholi Ana’a dia juga tidak bertemu kembarannya. Menurut ayahnya, Siraso telah meninggal dunia. Betapa gundah-gulana hati Silögu. Akhirnya, Silögu mohon diturunkan ke bumi. Silögu kebetulan diturunkan di muara sungai Oyo. Dia berjalan ke hulu sungai, dan tiba di Hiyambanua. Di sana dia bertemu seorang wanita yang mirip adik kembarnya. Sang wanita itu juga melihat Silögu mirip abang kembarnya.

Dua insan itu akhirnya kawin. Setelah menjadi pasutri (pasangan suami-istri) barulah Silögu dan wanita itu (yang ternyata adalah Siraso) mengetahui bahwa mereka saudara kembar. Apa boleh buat, Maha Sihai Si Sumber Bayu telah menjodohkan mereka.

Di bumi Nias Siraso dan Silögu tetap gemar mengunjungi para petani. Doa dan berkat mereka dibutuhkan untuk bibit dan untuk panen. Setelah mereka meninggal dunia, orang-orang membuat patung Siraso (Siraha Woriwu) dan patung Silögu (Siraha Wamasi) untuk memanggil arwah mereka pada waktu para petani turun menabur bibit dan panen. Siraso dikenal sebagai Dewi Bibit (Samaehowu Foriwu), Silögu dikenal sebagai Dewa Panen (Samaehowu Famasi).

Pada waktu mulai menabur bibit, masing-masing petani membawa bibit tanaman, diserahkan kepada ere (ulama agama suku) agar bibit tersebut diberkati oleh Dewi Bibit. Upacara pemberkatan ini mengorbankan babi. Ere memimpin doa pemujaan Siraha Woriwu. Syair hoho Memuja Dewi Bibit (Fanumbo Siraha Woriwu) diawali:

He le Siraso samo’ölö, he le Siraso samowua;
soga möi moriwu tanömö, möiga mangayaigö töwua;
mabe’zi sarasara likhe, matanö zi sambuasambua.

(Hai Siraso Sumber hasil, hai Siraso sumber buah.
Kami tiba, menyemai bibit, kami tiba menyemai tampang.
Kami semai tunggal berlidi, kami semai biji satuan.)

Setelah itu syair hoho berisi harapan agar bibit tanaman:
diberi akar menembus bumi, diberi batang naik mengatas
mayangnya dimatangkan oleh terik, buahnya dimatangkan oleh panas
terlindung dari serangan: tikus, walang sangit, celeng, monyet, hama, pipit
tidak diganggu arwah orang mati dan tidak dihanyutkan banjir

Selain harapan, syair hoho juga berisi janji (ikrar) yang harus ditepati:

Mabé wabaliŵa mbalaki, mabé wabaliŵa zemoa;
sumange woriwu tanömö, sumange woriwu töwua.
Andrö faehowu ya mo’ölö, andrö faehowu ya mowua.

(Akan kami bayar emas murni, dan kami membayar emas perada.
Persembahan bagi Dewi Bibit, persembahan bagi Dewi tampang.
Berkatilah agar ganda hasil, berkatilah agar berganda buah.)

Tidak dijelaskan bagaimana janji tersebut dilaksanakan, namun dalam pemujaan Dewa Panen disebutkan bahwa sebagian hasil panen harus dibagikan kepada: kaum miskin atau melarat, janda, anak yatim, dan anak yatim-piatu. Bila dilanggar akan membuat dewa marah dan merusak hasil pertanian.

Demikianlah cerita Dewi Bibit (dan Dewa Panen) dalam buku Ama Rozaman. Kisah Siraso dan Silögu ini pada zamannya merupakan mite. Para ahli menyebutnya mitos teogonis (mite terjadinya dewa-dewi), dianggap benar-benar terjadi, dianggap suci (sakral), dan diwariskan turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Nias tempodahulu kala.

Senin, 01 Agustus 2011

FORUM MASYARAKAT TERTINDAS ( FAMATI )

Forum masyarakat tertindas (FAMATI ) laksanakan aksi damai di Polres Nias, Walikota dan DPRD tarkait dengan penanganan kasus P2K ( PERSONIL PEMADAM KEBAKARAN ) di Polres Nias yang sangat lamban dalam menentukan tersangka di balik otak penipu personil p2k tersebut.Aksi tersebut gabungan beberapa LSM FORSAS, LSM HAMBA dan Organisasi kamahasiswaan Gmni komisariat stt syalom Dan HIMGI.Aksi yang yang ketiga kali dilaksanakan tersebut di karenakan oleh ulah oknum2 di kesbang linmas kota gunungsitoli pada Thn 2010 yang lalu dimana beberapa staf di kesbang linmas kota melakukan pungutan liar ( PUNGLI ) tarhadap pelamar/pekerja sukarelawan sekaligus menipu anggota P2K tersebut dimna hingga sekarang anggota2 P2K telah di leburkan dan upah tenaga sukarela tidak dibayarkan.Oleh dasar2 yang telah disampaikan personil pemadam kebakaran kepada LSM hamba maka LSM HAMBA mengadukan ke Polres Nias.tapi, hingga sekarang yang sudah menjelang satu tahun belum ada titik terang penentuan tersangka, padahal bukti2 yang akurat disertai dengan kwintansi dan keterangan saksi yang cukup membantu penyelidikan.Atas tidak ada wujud nyata dari laporan tersebur maka gabungan organ lakukan aksi dami untuk mengingatkan kembali atas pertanggung jawaban serta kejelasan dan kepastian hukum di Polres Nias.jawaban pada saat aksi oleh gabungan ORMAS tersebut memicu ketidakpuasan dan alasan yang memang tidak masuk akal.maka, bebrapa Ormas yang sudah bergabung dengan FAMATI akan berencana untuk mengajukan ke POLDA SUMATRA UTARA terkait kasus P2K yang sedang hangatnya di kota gunungsitoli......

Sabtu, 07 Mei 2011

Lokasi Togi Mbogi Di Nilai Punya Potensi Alam Yang Di Kagumkan.

Lokasi TOGI MBOGI ( goa kelelawar ) yang ada di desa lasara sowu kec.Gunungsitoli Utara dinilai punya potensi alam yang dikagumkan yang memiliki panorama yang luar biasa yang terletak pada ketinggian 500 M diatas permukaan laut.Goa Togi mbogi yang disbut-sebut oleh masyarakat GUSTAR adalah puluhan tahun silam ditemukan oleh para leluhur ketika berburu disalah satu  hutan yaitu yang namanya sekarang desa lasara sowu dimana pada dulunya lokasi itu dipimpin oleh "ORI" atau namanya Ori sowu.Lokasi Togi mbogi memiliki potensi yang sangat tinggi dimana Goa Togi mbogi bisa kita masuki kedalam dangan kedalaman -+ 100 M dan lebar -+ 30 M dan ketinggian -+ 20 M.Anehnya di dalam Goa terdapat ribuan kelelawar serta memiliki lantai atas dan lantai bawah serta lorong-lorong di dalam Goa yang memiliki ciri khas dari goa di kepulauan Nias.Goa ini bisa kita masuki namun terasa gelap sekali ketika kita tidak mempunyai alat penerangan di dalamnya.Anehnya lagi Goa Togi mbogi orang disana menyatakan bahwa ketika kita memasuki Goa disaat kemarau maka didalam Goa terasa licin dan ber' air disamping serta diatas bebatuan yang besar tersebut.Tapi ketika kita masuk dimusim hujan maka didalam Goa itu tanahnya terasa kering dan tidak licin.Dulunya Goa ini memiliki benda-benda aneh di dalam yang terbuat dari batu yang menyerupai ranjang, gendang, bentuk manusia DLL,akan tetapi benda-benda itu tak ditau kemana hingga sekarang.Diatas Goa atau diluar Goa kelihatan sangat sejuk sekali karena di atas gunung serta pemandangan yang sangat mempesona.Puncaknya memiliki berbagai jenis spesies anggrek yang menarik dan tanaman liar lainya dan juga pemandangan laut yang sungguh luar biasa.Goa Togi Mbogi ini sangat menarik ketika akhir-akhir ini banyak peneliti anggrek di puncaknya dari komunitas pecinta anggrek kepulauan Nias dan mereka sangat tertarik serta keheranan akan dalamnya Goa yang bisa kita masuki.Namun Goa ini tidak diperhatikan oleh pemerintah setempat serta dinas pariwisata karena lokasi Togi Mbogi kurang dipublikasikan sehingga yang tau lokasinya pun hanya sebagian saja,kalau lokasi ini dikembangakn dan dilestarikan maka sangan menarik serta menambah perekonomian masyarakat yang mengutungkan bagi pemerintah.